Bukan Hipertensi Biasa! Ini Alasan Ibu Hamil Wajib Cari Tempat USG Terdekat untuk Deteksi Preeklamsia
Penyakit dan Pencegahan
23 May 2026
5 menit
Admin

Bukan Hipertensi Biasa! Ini Alasan Ibu Hamil Wajib Cari Tempat USG Terdekat untuk Deteksi Preeklamsia

Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan meningkatnya tekanan darah tinggi setelah usia kehamilan 20 minggu yang disertai gangguan pada organ tubuh lain, terutama ginjal dan hati. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu dan bayi di seluruh dunia sehingga perlu mendapatkan perhatian serius selama masa kehamilan.

Preeklamsia pada Kehamilan: Penyebab, Gejala, Risiko, Pencegahan, dan Penanganannya.

Pada umumnya, preeklamsia muncul pada trimester kedua atau trimester ketiga kehamilan. Namun, pada beberapa kasus, kondisi ini juga dapat terjadi setelah persalinan yang disebut sebagai preeklamsia postpartum.

Preeklamsia bukan sekadar tekanan darah tinggi biasa. Penyakit ini dapat menyebabkan gangguan aliran darah ke plasenta sehingga pertumbuhan dan perkembangan janin menjadi terganggu. Jika tidak segera ditangani, preeklamsia dapat berkembang menjadi eklamsia yang ditandai dengan kejang dan dapat mengancam nyawa ibu maupun bayi.

Ilustrasi ibu hamil pada trimester kedua atau trimester ketiga
Ilustrasi ibu hamil pada trimester kedua atau trimester ketiga

Sejarah Singkat dan Pentingnya Pemahaman Tentang Preeklamsia

Preeklamsia telah dikenal sejak ratusan tahun lalu sebagai penyakit berbahaya pada ibu hamil. Dahulu kondisi ini disebut “toxemia of pregnancy” karena dipercaya disebabkan oleh racun dalam tubuh ibu hamil. Seiring berkembangnya ilmu kedokteran, diketahui bahwa preeklamsia berkaitan dengan gangguan pembuluh darah dan fungsi plasenta.

Hingga saat ini, preeklamsia masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di berbagai negara, termasuk Indonesia. Banyak kasus terjadi karena keterlambatan deteksi, kurangnya pemeriksaan kehamilan rutin, serta minimnya pemahaman masyarakat mengenai tanda bahaya kehamilan.

Karena itu, edukasi tentang preeklamsia sangat penting agar ibu hamil dapat mengenali gejalanya lebih dini dan segera mendapatkan pertolongan medis.

Penyebab Preeklamsia

Penyebab pasti preeklamsia belum diketahui secara pasti. Namun, para ahli percaya bahwa kondisi ini berhubungan dengan gangguan perkembangan plasenta dan pembuluh darah selama kehamilan.

Berikut beberapa faktor yang diduga berperan dalam terjadinya preeklamsia:

1. Gangguan Pembentukan Plasenta

Pada kehamilan normal, pembuluh darah menuju plasenta berkembang dengan baik agar janin mendapatkan suplai oksigen dan nutrisi yang cukup. Pada preeklamsia, pembuluh darah tersebut berkembang tidak normal sehingga aliran darah menjadi terganggu.

Akibatnya:

  • Tekanan darah ibu meningkat
  • Organ tubuh ibu mengalami kerusakan
  • Janin kekurangan nutrisi dan oksigen

2. Faktor Genetik

Ilustrasi gambar DNA faktor turunana gen
Ilustrasi gambar DNA faktor turunana gen

Riwayat keluarga memiliki pengaruh besar terhadap risiko preeklamsia. Jika ibu, saudara perempuan, atau nenek pernah mengalami preeklamsia, maka risiko seseorang mengalami kondisi yang sama akan meningkat.

3. Gangguan Sistem Kekebalan Tubuh

Pada beberapa kasus, sistem imun ibu dianggap berlebihan dalam merespons keberadaan janin dan plasenta sehingga menyebabkan gangguan pembuluh darah.

4. Gangguan Pembuluh Darah

Kerusakan atau penyempitan pembuluh darah dapat menyebabkan aliran darah terganggu sehingga tekanan darah meningkat.

5. Faktor Hormon

Perubahan hormon selama kehamilan juga diduga memengaruhi fungsi pembuluh darah dan berkontribusi terhadap timbulnya preeklamsia.

Faktor Risiko Preeklamsia

Tidak semua ibu hamil mengalami preeklamsia. Namun ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya.

Faktor Risiko Utama

1. Kehamilan Pertama

Ibu yang baru pertama kali hamil memiliki risiko lebih tinggi mengalami preeklamsia.

2. Riwayat Preeklamsia Sebelumnya

Jika pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya, maka kemungkinan mengalami kembali akan meningkat.

3. Tekanan Darah Tinggi

Wanita yang sudah memiliki hipertensi sebelum hamil lebih rentan mengalami preeklamsia.

4. Diabetes

Penderita diabetes memiliki risiko gangguan pembuluh darah sehingga lebih mudah mengalami komplikasi kehamilan.

5. Obesitas

Kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko hipertensi dan gangguan metabolik.

6. Usia Ibu

  • Ibu hamil usia di bawah 20 tahun
  • Ibu hamil usia di atas 35 tahun

Kedua kelompok usia tersebut memiliki risiko lebih tinggi.

7. Kehamilan Kembar

Mengandung bayi kembar membuat kerja plasenta menjadi lebih berat sehingga risiko preeklamsia meningkat.

8. Penyakit Ginjal

Gangguan ginjal dapat memperburuk pengaturan tekanan darah dan cairan tubuh.

9. Penyakit Autoimun

Penyakit seperti lupus dapat meningkatkan risiko gangguan pembuluh darah.

10. Jarak Kehamilan Terlalu Jauh

Kehamilan kembali setelah jarak lebih dari 10 tahun juga dapat meningkatkan risiko.

Gejala Preeklamsia

Pada tahap awal, preeklamsia sering tidak menimbulkan gejala yang jelas. Karena itu pemeriksaan kehamilan rutin sangat penting.

Berikut gejala yang umum terjadi:

1. Tekanan Darah Tinggi

Tekanan darah ≥140/90 mmHg setelah usia kehamilan 20 minggu.

2. Protein dalam Urine

Proteinuria merupakan tanda adanya gangguan ginjal akibat preeklamsia.

3. Pembengkakan

Pembengkakan pada:

  • Wajah
  • Tangan
  • Kaki

Walaupun pembengkakan ringan normal saat hamil, pembengkakan berlebihan perlu diwaspadai.

4. Sakit Kepala Berat

Sakit kepala hebat yang tidak membaik meski sudah istirahat dapat menjadi tanda preeklamsia.

5. Gangguan Penglihatan

Misalnya:

  • Pandangan kabur
  • Melihat kilatan cahaya
  • Sensitif terhadap cahaya

6. Nyeri Perut Bagian Atas

Biasanya terasa di bawah tulang rusuk sebelah kanan.

7. Mual dan Muntah Berlebihan

Terutama bila muncul mendadak pada trimester akhir.

8. Sesak Napas

Dapat terjadi akibat penumpukan cairan di paru-paru.

9. Berat Badan Naik Mendadak

Kenaikan berat badan drastis akibat retensi cairan.

Jenis-Jenis Preeklamsia

1. Preeklamsia Ringan

Ditandai dengan:

  • Tekanan darah meningkat ringan
  • Protein urine sedikit
  • Gejala belum berat

2. Preeklamsia Berat

Ditandai dengan:

  • Tekanan darah sangat tinggi
  • Gangguan organ
  • Risiko kejang
  • Gangguan pertumbuhan janin

3. Eklamsia

Merupakan komplikasi paling serius berupa:

  • Kejang
  • Penurunan kesadaran
  • Risiko kematian ibu dan bayi

4. HELLP Syndrome

Kondisi berat yang meliputi:

  • Hemolisis
  • Peningkatan enzim hati
  • Penurunan trombosit

HELLP syndrome merupakan keadaan darurat medis.

Dampak Preeklamsia pada Ibu

1. Stroke

Tekanan darah sangat tinggi dapat menyebabkan pecah pembuluh darah otak.

2. Kejang

Kondisi ini disebut eklamsia.

3. Kerusakan Ginjal

Ginjal tidak mampu menyaring cairan dan protein dengan baik.

4. Kerusakan Hati

Fungsi hati dapat terganggu bahkan mengalami perdarahan.

5. Gangguan Pembekuan Darah

Dapat menyebabkan perdarahan hebat.

6. Edema Paru

Penumpukan cairan di paru menyebabkan sesak napas berat.

7. Kematian Ibu

Jika tidak ditangani segera, preeklamsia dapat berakibat fatal.

Dampak Preeklamsia pada Janin

1. Pertumbuhan Janin Terhambat

Aliran darah ke plasenta berkurang sehingga janin kekurangan nutrisi.

2. Berat Badan Lahir Rendah

Bayi dapat lahir dengan berat badan rendah.

3. Kelahiran Prematur

Dokter mungkin harus melakukan persalinan lebih awal demi menyelamatkan ibu dan bayi.

4. Kekurangan Oksigen

Janin bisa mengalami gangguan pernapasan saat lahir.

5. Kematian Janin

Pada kasus berat, janin dapat meninggal dalam kandungan.

Diagnosis Preeklamsia

Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan rutin kehamilan.

1. Pemeriksaan Tekanan Darah

Tekanan darah diperiksa setiap kunjungan antenatal.

2. Pemeriksaan Urine

Untuk mengetahui adanya proteinuria.

3. Tes Darah

Ilustrasi test lab preeklamsia
Ilustrasi test lab preeklamsia

Meliputi:

  • Fungsi ginjal
  • Fungsi hati
  • Jumlah trombosit

4. USG Kehamilan

Untuk memantau:

  • Pertumbuhan janin
  • Jumlah air ketuban
  • Kondisi plasenta

5. Pemeriksaan Detak Jantung Janin

Untuk mengetahui kondisi janin dalam kandungan.

Rekomendasi Medis: Deteksi dini gangguan aliran darah plasenta dan kondisi janin akibat preeklamsia wajib dipantau secara visual. Segera kunjungi fasilitas medis yang menyediakan layanan USG terdekat untuk memantau tumbuh kembang si kecil secara akurat.

Pencegahan Preeklamsia

Ilustrasi pencegahan agar bayi dan ibu sehat
Ilustrasi pencegahan agar bayi dan ibu sehat

Meskipun tidak selalu dapat dicegah, risiko preeklamsia dapat dikurangi melalui gaya hidup sehat dan pemeriksaan rutin.

1. Pemeriksaan Kehamilan Teratur

Kontrol rutin membantu mendeteksi gejala lebih awal.

2. Menjaga Berat Badan Ideal

Hindari obesitas sebelum dan selama kehamilan.

Baca Juga: Menjaga pola makan rendah garam sangat krusial bagi ibu hamil dengan kecenderungan hipertensi. Simak panduan lengkap memilah asupan harian dalam artikel: Aturan Konsumsi Mie Instan dan Hidangan Tinggi Natrium untuk Kondisi Kesehatan Tertentu.

3. Mengonsumsi Makanan Sehat

Perbanyak:

  • Sayur
  • Buah
  • Protein sehat
  • Air putih

Kurangi:

  • Garam berlebihan
  • Makanan tinggi lemak
  • Makanan instan

4. Olahraga Ringan

Contoh:

  • Jalan kaki
  • Senam hamil
  • Yoga ibu hamil

5. Istirahat yang Cukup

Kurang tidur dapat memperburuk tekanan darah.

6. Mengontrol Penyakit Penyerta

Seperti:

  • Diabetes
  • Hipertensi
  • Penyakit ginjal

7. Menghindari Rokok dan Alkohol

Keduanya dapat merusak pembuluh darah dan plasenta.

Penanganan Preeklamsia

Penanganan tergantung tingkat keparahan dan usia kehamilan.

1. Pemantauan Ketat

Pada kasus ringan:

  • Kontrol lebih sering
  • Pemeriksaan tekanan darah
  • Pemantauan janin

2. Obat Penurun Tekanan Darah

Dokter dapat memberikan obat antihipertensi yang aman untuk ibu hamil.

3. Magnesium Sulfat

Digunakan untuk mencegah kejang pada preeklamsia berat.

4. Rawat Inap

Diperlukan bila kondisi ibu atau janin memburuk.

5. Persalinan

Satu-satunya cara menyembuhkan preeklamsia adalah melahirkan bayi dan plasenta.

Dokter akan mempertimbangkan:

  • Kondisi ibu
  • Kondisi janin
  • Usia kehamilan

Perawatan Setelah Persalinan

Preeklamsia tidak selalu langsung hilang setelah melahirkan. Tekanan darah dapat tetap tinggi selama beberapa hari atau minggu.

Ibu tetap perlu:

  • Kontrol rutin
  • Minum obat sesuai anjuran
  • Memantau tekanan darah

Preeklamsia Postpartum

Preeklamsia postpartum terjadi setelah persalinan, biasanya dalam 48 jam pertama namun dapat muncul hingga beberapa minggu.

Gejalanya:

  • Sakit kepala berat
  • Tekanan darah tinggi
  • Gangguan penglihatan
  • Sesak napas

Kondisi ini memerlukan penanganan segera.

Mitos dan Fakta Tentang Preeklamsia

Mitos 1: Preeklamsia hanya terjadi pada ibu dengan tekanan darah tinggi

Fakta: Ibu tanpa riwayat hipertensi juga bisa mengalami preeklamsia.

Mitos 2: Pembengkakan kaki pasti tanda preeklamsia

Fakta: Pembengkakan ringan normal saat hamil, tetapi pembengkakan berlebihan harus diperiksa.

Mitos 3: Preeklamsia pasti sembuh sendiri

Fakta: Kondisi ini dapat memburuk dengan cepat dan berbahaya.

Mitos 4: Ibu muda pasti aman dari preeklamsia

Fakta: Usia terlalu muda juga berisiko.

Pentingnya Dukungan Keluarga

Keluarga memiliki peran besar dalam membantu ibu hamil menghadapi preeklamsia.

Bentuk dukungan meliputi:

  • Mengingatkan kontrol kehamilan
  • Membantu menjaga pola makan
  • Memberikan dukungan emosional
  • Mengantar ke fasilitas kesehatan bila ada tanda bahaya

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Ibu hamil harus segera mencari pertolongan medis bila mengalami:

  • Sakit kepala berat
  • Penglihatan kabur
  • Tekanan darah tinggi
  • Nyeri perut hebat
  • Sesak napas
  • Gerakan janin berkurang
  • Kejang

Komplikasi Jangka Panjang

Wanita yang pernah mengalami preeklamsia memiliki risiko lebih tinggi mengalami:

  • Hipertensi kronis
  • Penyakit jantung
  • Stroke
  • Penyakit ginjal

Karena itu gaya hidup sehat setelah melahirkan sangat penting.

Peran Tenaga Kesehatan dalam Pencegahan Preeklamsia

Tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab besar dalam:

  • Edukasi ibu hamil
  • Deteksi dini
  • Penanganan cepat
  • Pemantauan janin

Pelayanan antenatal yang baik dapat menurunkan angka komplikasi.

Kesimpulan

Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan serius yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan gangguan organ tubuh setelah usia kehamilan 20 minggu. Kondisi ini dapat membahayakan ibu maupun janin jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Pemeriksaan kehamilan rutin sangat penting untuk mendeteksi tanda-tanda awal preeklamsia. Ibu hamil juga perlu menjaga pola hidup sehat, mengontrol tekanan darah, mengonsumsi makanan bergizi, serta segera memeriksakan diri bila mengalami gejala mencurigakan.

Dengan edukasi yang baik, dukungan keluarga, dan penanganan medis yang tepat, risiko komplikasi akibat preeklamsia dapat diminimalkan sehingga ibu dan bayi tetap sehat hingga proses persalinan berlangsung dengan aman.

Untuk mendaftarkan pemeriksaan kehamilan berkala, memantau kesehatan janin, atau memerlukan edukasi kesehatan keluarga lebih lanjut, Anda dapat langsung menghubungi kami di: Layanan Kontak & Media Sosial Resmi Klinik.

Bagikan Artikel:

Admin

Klinik Pratama Pradhana

Klinik Pratama Pradhana di Tangerang menyediakan layanan kesehatan umum dan gigi yang lengkap, cepat, nyaman, dan terjangkau untuk seluruh keluarga, didukung dokter berpengalaman.

Maskot Klinik Pratama Pradhana